K.H.Gholib (1899-1949): Kiai yang Mengangkat Senjata

K.H. GHOLIB sama muaknya melihat imperialisme Jepang atau Belanda. Pada masa sebelum, bahkan pascakemerdekaan pun, dia tidak henti mengangkat senapan, bergumul dalam peperangan sengit, seraya berjihad hidup-mati bersama kerabat dan seluruh santrinya mengusir penjajah di wilayah Pringsewu dan sekitarnya.

Namanya mengharum hingga kini; diabadikan dalam nama jalan, sekolah, dan pondok pesantren. Makamnya didatangi peziarah dari seputar Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Jakarta, Bandung, Bogor, Jawa, dan Madura.
Semua bermula dari pongahnya penjajah.
Kemarahan Gholib kepada Jepang dimulai dengan perjuangannya menentang program sei kerie tahun 1942. Bagi lelaki kelahiran 1899 di Kampung Mojosantren, Krian, Jawa Timur, ini (ayahnya bernama K. Rohani bin Nursihan dan ibu Muksiti) tindakan Jepang sudah menindas, menyiksa, dan memeras.

K.H. Gholib segera menyiagakan pasukan mengusir Jepang dari tanah Bamboo Seribu (sekarang Pringsewu). Walaupun dengan pedang, golok, keris, dan bambu runcing seadanya, mereka tidak lelah menggempur basis-basis Jepang di sana.

Gholib berkali-kali ditangkap militer. Jepang khawatir pria ganteng-gagah, tangkas, berkulit hitam manis, dan bermisai meruncing ke atas bibirnya ini memengaruhi para kiai; apalagi Gholib menggalang opini menolak ajakan Jepang menyembah Dewa Matahari (Tenno Heika, Kaisar Hirohito). Untung Jepang tidak lama berkuasa karena bertekuk lutut kepada sekutu. Namun, bukan berarti penjajah hapus seluruhnya.

Negara memang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Tapi Belanda tidak mengakui kedaulatan kita, bahkan ingin menguasai kembali Indonesia. Belanda kemudian menggempur pertahanan Indonesia di mana-mana. Gholib kembali menyiagakan senjata demi mempertahankan kemerdekaan RI. Dia membentuk pasukan jihad: Pasukan Sabillah Hisbullah yang diambil dari anak-anak didiknya lalu dididik TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat).

Mereka berlatih cara berperang dan diajar Mayor Inf. Herni, Mayor Inf. Mulkan, K.H. Gholib, dan Mayor Inf. Nurdin. Pasukan Fisabillah dan Laskar Hisbullah (TKR/BKR) bertahan di Pringsewu dari 1 November 1945 sampai 7 Agustus 1946.

Sewaktu Agresi Belanda II 1949, Lampung didarati Belanda melalui Pelabuhan Panjang pada 1 Januari. Pemerintah bersama TRI (Tentara Republik Indonesia) mengungsi ke pedalaman Gedongtataan, Gadingrejo, Pringsewu, Kedondong, dan tempat-tempat lain.

Di Gadingrejo dibentuk pemerintahan darurat dengan residennya Mr. Gele Harun dan wakilnya M. Yasin. Di Pringsewu, basis TRI ditempatkan di pesantren K.H. Gholib dengan tokoh-tokohnya Kapten Alamsyah (pernah menjadi dubes RI di Belanda) dan Mayor Effendy. Untuk mengganyang Belanda–melalui musyawarah para tokoh–K.H. Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.

Pada 8 Agustus 1947–20 Oktober 1948, pecah pertempuran di front Baturaja dan Martapura. Pasukan Sabillah dan Laskar Hisbullah dipimpin Gholib dan Kapten Alamsyah Ratuperwiranegara (mantan Menteri Agama dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat era Orde Baru) bertarung seperti banteng luka.
Di Martapura, perang hebat tidak terelakkan. Banyak korban tewas, di pihak Belanda maupun Gholib. Mereka yang selamat di antaranya Mayor Herni, Sukardi, Mayor Nurdin, Sukemi, Mayor Mulkan, Supardi, Abdul Fatah, Silur, Irsan, Suparno, Suwarno, Mardasam, Harun, Hasan, dan Husen.

Tanggal 27 November 1949, terjadi perundingan clash order antara delegasi tentara Belanda dan delegasi RI/TNI di Kotabumi, Lampung Utara. Yang hadir: Mayor K.L. Graaf von Renzouw, Mayor Inf. H.N.S. Effendi, Kapten A.L. Shohoka, Kapten Inf. Hamdani, dan Letnan Husen.

Usai “perundingan damai” itu, mereka kembali lagi ke Pringsewu. Belum sempat Gholib duduk di rumahnya, ia mendapat berita Belanda datang kembali ke Tanjungkarang, bahkan sudah masuk Gadingrejo. Gholib cepat mengatur siasat pasukan. Mereka menghancurkan Jembatan Bulok. Belanda tidak kehabisan akal. Mereka memutar lewat Gedongtataan, Kedondong, terus ke Pagelaran, dan dari pesawat diterjunkan pasukan udara dan hujan peluru untuk menghancurkan tempat-tempat persembunyian pejuang kita.

Melihat keadaan sudah tidak aman, Gholib dan pasukan menyeberang ke utara Sungai Way Sekampung, lalu mengungsi ke hutan rimba. Selama Gholib bersembunyi, selama itu pula Belanda merusak dan menghancurkan harta pesantren Gholib seperti rumah, 16 mobil, pabrik tapioka, poliklinik, pasar, pabrik tenun, pabrik padi, rotan, dan kolam renang.

Sebagian pesantren dibakar, sebagian lagi peralatannya dipindahkan ke tengah pasar Pringsewu kemudian dijadikan rumah makan antek-antek Belanda, dua bus roda enam juga dibawa, termasuk peralatan lain-lain yang tidak terdata. Bahkan, yang tidak mau memberi tahu persembunyian Ghalib dibunuh seperti Ustaz K.H.~T. Nuh (karena dianggap sebagai Ghalib), dan tewas seketika.

Gholib terus mengungsi dan hidup berpindah-pindah. Di sebuah desa, dia sakit, lumpuh, lalu bersiap pulang. Kabar kembali ini cepat terdengar Belanda yang tetap bernafsu menghabisinya. Saat perundingan Belanda-TNI 27 November 1949 di Kotabumi, Belanda memerintahkan polisi federalnya memanggil Gholib untuk perundingan. Tapi Macan Loreng, pasukan khusus kaki tangan penjajah saat itu, berkeras agar Gholib ditahan.

Selama di pengungsian Gholib sekeluarga cemas memikirkan nasib warganya di Pringsewu. Gholib pulang dan berniat salat idulfitri. Beberapa hari kemudian datang utusan Belanda. Gholib disergap Macan Loreng, kemudian dibawa ~ke Gereja Katholik Pringsewu, yang saat dipakai sebagai markas tentara Belanda.

Gholib ditahan 15 hari dan dibebaskan saat persetujuan gencatan senjata tinggal tiga hari diumumkan, malam Kamis Legi, 6 November 1949 (16 Syawal 1968 H). Pukul satu dini hari Gholib meninggalkan penjara, lalu berjalan pulang. Tapi baru 10 meter dia melangkah dari rumah tahanan, K.H. Gholib ditembak dari belakang. Dia gugur seketika.

Gholib dilahirkan 1899 di Kampung Modjosantren, Krian, Jawa Timur. Ayahnya, K. Rohani bin Nursihan dan ibu Muksiti. Sejak kecil, Gholib tidak lagi mengenal ayahnya yang mengembara entah ke mana; kecuali sempat memberi uang seringgit sesaat sebelum Gholib dikhitan.

Sejak usia 7 tahun, sang ibu menyerahkan Gholib kepada Kiai Ali untuk belajar ilmu agama, lalu berguru dengan tokoh amat berpengaruh, pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari, di Pondok Pesantren Tebu Ireng, dan K.H. Kholil di Bangkalan Madura.

Sejak remaja, Gholib senang mengembara menuntut ilmu agama Islam. Ia tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan masalah ubudiah. Ilmu hikmah pun dipelajarinya, dari pesantren ke pesantren; dari satu guru ke guru lainnya.

Kebiasaan ini tetap dilakukan hingga dewasa sembari mengembangkan syiar Islam. Saat dewasa, Gholib menikahi Syiah’iyah. Namun, sampai akhir hayat beliau tidak punya keturunan, kecuali tiga anak angkat: Jamzali, Siti Romlah, dan Rubaiyah. n


Sumber:
Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 5-8.

 

About the author

More posts by admin

 

0 Komentar

Kamu dapat menjadi yang pertama yang meninggalkan komentar.

Tinggalkan sebuah komentar