Mukhayyamku Tahun ini

By 3M

Mukhayyam setahun sekali, berbeda dg pertemuan liqo’ yang setiap pekan. Kerinduan untuk bisa ikut  mukhayyam selalu berkobar. Segala syarat agar layak bisa ikut mukhayyam sudah saya siapkan jauh2 hari. Mukhayyam bagiku adalah sarana yg paling dekat untuk meraih kesyahidan.

Wasilah atau perangkat tarbiyah yg ada; liqo tarbawi, mabit, jalsah, tatsqif, daurah, nadwah, riyadhah atau rihlah menurutku lebih kepada tarqiyah ilmiyah (peningkatan keilmuwan), yang sepertinya “jarang” yang syahid karena liqo’ atau tatsqif. Namun mukhayyam adalah bagian lain dari sisi wasail yg saya pahami. Walaupun mungkin blm begitu utuh saya memahami. Namun, wasilah mukhayyam adalah yg paling ‘dekat’ untuk meraih kemuliaan syahid atau paling tidak mendekati.

Untuk itu saya begitu semangat menyiapkan diri bisa ikut dan boleh ikut. Menjadi kesedihan tersendiri jika seorang al akh tidak boleh ikut mukhayyam, lalu apakah dia harus menggantinya dengan jalsah? atau apa kira2 yg sepadan?

Mukhayyamku tahun lalu 2015 atau tahun2 sebelumnya adalah keindahan seluruhnya. Baik yang di pegunungan, hutan, sungai, berendam di laut, survival, semuanya….adalah bagian dari agar layak disertakan dalam kafilah jihad. Aku tidak akan “menyalahkan” ikhwah yg tdk mengambil bagian dalam mukhayyam karena hal tersulit saat ini dan kapanpun adalah memberi dan memulai dg contoh dari diri sendiri.

Kisah mukhayyamku pernah ku tulis sebelumnya. Tahun ini ku tulis lagi agar mengobati rasa ‘kurangku’ dalam mukhayyam tahun ini.

Mukhayyamku tahun ini (2016) pun sudah aku siapkan jauh2 hari. Kapanpun berangkat sdh siap. Kira2 begitu. Istriku yg ku temukan dalam dakwah ini selalu mendukung tiada lemah. Mukhayyam tahun ini tggl 24-27 yg bertepatan dg prediksi dokter dan bidan untuk kelahiran anakku yg ke 7 (yg ke enam wafat).

Umu Salma, isteriku tetap mendukungku untuk berangkat mukhayyam meski kandungannya siap melahirkan. Sebenarnya aku ragu untuk berangkat, namun dia bertanya padaku:”Katanya mau mukhayyam, kok abi blm siap2″. Dia tdk tahu kalau mukhayyam tdk perlu bawa bekal banyak2,cukup diiklanatkan saja.”Jika ada hal2 yg perlu dikomunikasikan bisa lewat panitia mukhayyam”, katanya pula.

Maka sebelum berangkat nomor2 hp panitia sdh saya siapkan dirumah. Agenda2 sdh saya dilimpahkan, urusan2 sdh dirampungkan. Sebagian ikhwah panitia pun sdh saya kontak dg kondisi yg ada.

Rencana semula saya akan membawa mobil sendiri ke lokasi mukhayyam sehingga jika ada info tentang istri yg siap melahirkan, saya segera izin dan pulang. Namun, peserta diminta mengumpulkan kunci kendaraannya masing2 dan berangkat ke lokasi mukhayyam dengan naik mobil truk.

Satu hal yg terlupakan oleh temen2 saat berangkat adalah berdoa, doa safar, doa jihad. Atau mengisi selama perjalanan dengan doa, zikir, istighfar pada-Nya bukan bercanda, bergurau, dsb. Walaupun panitia sdh membacakan aturan2nya banyak yg sering lupa atau menganggapnya hal yg biasa, sehingga setiap mukhayyam tiada membekas dlm jiwa.

Singkat kisah, sampailah semua peserta di bumi mukhayyam. Agenda demi agenda yg happy, santai, menyehatkan, olah tenaga, olah fikir, olah rasa, kebersamaan….tak terasa satu malam telah berlalu. Datang lah pagi menyambut dg agenda, baramij yg seru; tes kebugaran, bakar ubi, perang2 an, ngotot2an, seru…. hingga sore hari.Tak terasa malam menjelang, tugas2 hrs dipenuhi; pusp up, bending, sit up, dst sesuai banyak yg diwajibkan.

Malam tsb saya terpaksa harus izin kpd komandan lapangan dan komandan kompi untuk pulang krn isteri sdh batas ‘akhir’ lahiran. Maka pukul 00.00 sampai di rumah, karena sdh larut, kami berencana ke bidan pagi2 sekali. Alhamdulillah paginya bisa bertemu bidan walaupun tdk berani memutuskan sehingga kami diberi surat rujukan ke dokter. Dokter kami kejar karena besoknya libur. Alhamdulillah dokter memberikan obat rangsangan krn memang sdh waktunya namun blm ada kontraksi.

Sepulang dari dokter, saya akan berangkat ke mukhayyam lagi untuk gabung dg pasukan dan melanjutkan mukhayyam yg tertunda namun sepertinya saya harus bersabar krn bayi tak ku njung lahir walau obat peransang sdh diminum. Saya putuskan untuk tdk berangkat ke tempat mukhayyam. Saya sampaikan kepada komandan untuk izin.

Malam ini setelah sekian lama menanti dari hari sabtu. Maka, Ahad Pkl 23.05 telah lahir putri kami yg ke 7 dengan berat 3,8 kg dan panjang 42 cm di persalinan bidan Hartati way halim dg sehat semuanya. Jazaakumullah atas doa2 antum. Saya prajurit dg R-15.05 melanjutkan mukhayyamnya disini. Mukhayyam belum berakhir. (3M)

 

About the author

More posts by admin

 

0 Komentar

Kamu dapat menjadi yang pertama yang meninggalkan komentar.

Tinggalkan sebuah komentar