Inilah Penjelasan Al-Qur’an tentang Orang Tua dan Anak

Sahabat Ummi, anak adalah amanah yang dititipkan-Nya pada orang tua. Maka mendidik anak agar menjadi insan saleh-salehah adalah utama tugas orang tua.

Di era modern ini, banyak orang tua baik ayah atau ibu sama-sama bekerja dan menyerahkan putra-putrinya diasuh dan dibesarkan orang lain, tak jarang pembantu rumah tangga.

Memang tidak salah. Namun ketika itu terjadi orang tua harus benar-benar pandai memilih pengasuh pengganti terbaik untuk anak. Dan akan lebih baik ketika kita membesarkannya dalam asuhan kita pribadi. Banyak kita saksikan berbagai peristiwa di mana baby sitter memberikan obat tidur pada anak agar ia tak perlu susah payah merawat dan mengasuhnya. Tak jarang juga kita temui pengasuh anak yang menyiksa anak asuhannya tanpa sepengetahuan orang tua, yang itu membuat si anak menjadi trauma tak berkesudahan. Dan tentu hal itu akan membuat tumbuh kembang anak terganggu.

Terkadang kita bertanya, ”Kok tega ya berbuat seperti itu terhadap anak kecil?” padahal anak kecil adalah manusia suci tanpa dosa. Seharusnya melihat keluguan dan kepolosan mereka, kasih sayang dan cinta yang terpancar dari jiwa kita, bukan sebaliknya, jengkel, benci atau dendam. Namun hal itu menjadi sangat mungkin saya rasakan ketika saya telah menjadi seorang ibu dan banyak mengamati anak kecil di sekitar saya tinggal.

Sebagaimana orang dewasa, terkadang anak kecil sangat lucu dan menyenangkan. Namun di saat-saat tertentu ia pasti rewel, meminta ini dan itu. Jika kita (pengasuh) tidak dalam kondisi mood yang baik, bisa saja berbuat di luar kendali. Terlebih ketika emosi tengah memuncak. Anak tak lagi tampak membahagiakan melainkan semakin membuat keadaan jadi ruwet tak karuan.

Baca juga: Sikap Orangtua yang Menyebabkan Anak Durhaka

Misalnya, saat kita memiliki tugas yang banyak, belum memasak, membersihkan rumah, mencuci dan lain-lain. Baru kita mulai mengerjakan kesibukan itu satu per satu, tiba-tiba anak menangis minta digendong, mengajak kita bermain dengannya, ia tak mau ditinggal sendirian, dan seterusnya dan seterusnya. Maka ketika itu terjadi, kita harus bersabar menghadapinya. Sejenak menghentikan pekerjaan yang sedang kita lakukan untuk menuruti apa yang diinginkannya.

Ketika hati si kecil telah lega, senyum mengembang di bibir mungilnya, baru kita bujuk dan rayu agar ia mau bermain dengan mainannya atau minta agar ia mau membantu apa yang kita kerjakan. Dengan melibatkan anak dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, sebenarnya kita telah mengajarinya banyak hal. Karena semakin kita bersikap keras dan kasar pada anak, itu akan membuat mereka semakin berbuat nakal dan rewel. Menghadapi kerewelan anak harus dengan hati yang lapang, penuh kesabaran dan kelembutan. Dengan demikian, anak akan tumbuh besar dalam cinta dan kasih sayang. Dan kelak mereka pun akan tumbuh menjadi insan yang suka menebar kasih dan sayang.

Di sinilah betapa penting peran orang tua dalam membentuk mentalitas seorang anak. Karena sekali lagi anak adalah anugerah sekaligus bencana. Hal itu telah jelas disampaikan dalam Al-Qur’an al-Kariim, bahwa anak dapat menjadi anugerah sekaligus bencana bagi orangtuanya. Berikut bagaimana al-Qur’an menjelaskan tentang anak dan orang tua:

1. Anak sebagai hiasan

Allah SWT berfirman:“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

2. Anak sebagai cobaan hidup

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. At Taghabun: 15)

3. Anak yang lemah

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

4. Anak sebagai musuh

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs At Taghabun: 14)

5. Anak yang baik dan menyejukkan pandangan mata

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Qs. Ali Imron: 38)

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Furqon: 74)

Oleh karenanya Sahabat Ummi, akankah kita menjadikan anak sebagai hiasan atau musuh, anugerah atau bencana, semua ada di tangan kita sebagai orang tua. Semoga kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi insan saleh salehah yang menyejukkan pandangan mata. Amiin…

Foto ilustrasi: google

Sumber: ummi-online.com,

Penulis:

Tina Siska Hardiansyah

Tina Siska Hardiansyah

 

About the author

More posts by admin

 

0 Komentar

Kamu dapat menjadi yang pertama yang meninggalkan komentar.

Tinggalkan sebuah komentar