Hati-hati..! Perilaku Buruk Media Ternyata Berlanjut ke Masjid

Pringsewunews: , Hari ini aku begitu bersemangat untuk segera mengikuti Shalat Taraweh di sebuah masjid di Kota Surabaya. Berharap mendapatkan shaf pertama, kupacu langkahku dengan cepat agar segera sampai ke masjid. Namun, ternyata terlalu banyak orang yang lebih baik dariku sehingga aku harus puas berada pada baris ke-5. Raka’at demi rakaat kulewati dengan khusyuk, hingga tak terasa raka’at terakhir Shalat Taraweh pun berlalu. Sebelum dilanjutkan dengan Shalat Witir, sudah menjadi tradisi umum kalau hampir di setiap masjid selalu disisipi agenda tambahan berupa “Ceramah Ramadhan”. Dan akupun menunggunya,,, Sang khatib memulai ceramah dengan memuji syukur kepada Allah, lantas bersholawat kepada Nabi Muhammad S.A.W. hingga kemudian beliau menyampaikan tema ceramah yang berjudul “Keterkaitan Iman dengan Amal Perbuatan” Mantap, begitu dalam hati aku bergumam… Lantas aku keluarkan HP-ku untuk mencatat poin-poin penting tentang apa yang akan disampaikan sang Khatib. Pembahasan ceramah terus bergulir hingga sang Khatib mengatakan “Akhlaq karimah seseorang dalam kehidupan sehari-hari, adalah bukti dan cerminan keimanan seseorang…” Lantas sang khatib memberikan contoh, bahwa pada saat ini banyak Publik Figur yang terkena kasus korupsi. Termasuk yang sedang hangat diberitakan di Televisi dan Koran-koran. Seorang publik figur sekaligus tokoh partai politik tertentu bernama LHI dan Fathonah yang tersangkut kasus korupsi…bla bla bla… Seketika hatiku terhenyak, jantungku berdegub keras hingga tanganku terasa gemetaran dan kuhentikan mencatat materi ceramah di HP kesayanganku… Aku tidak tahu mengapa jantungku berdegub begini, ku mencoba menenangkan diri dan mendegarkan lanjutan ceramah dari sang khatib. Sampai suatu ketika, sang khatib masih melanjutkan pergunjingan tentang Fathonah dan diapun berkata: “Kalau sekarang ini kita bertanya kepada anak-anak, berapa sifat utama Nabi? Pasti anak-anak kita akan menjawab ada Tiga. Kenapa bukan empat?” Kemudian sang khatib melanjutkan ceramahnya dengan memberikan argumen: “Ya… karena yang satu dari sifat Nabi sekarang ada di penjara, yaitu Fathonah” dan jama’ah sholat Taraweh-pun spontan tertawa mendengarkan lelucon sang khatib tersebut. Masyaa Alloh, mendengar kalimat terakhir dari sang khatib hatiku menjadi terbakar… Masih segar dalam ingatanku, ketika ku pelajari buku-buku agama yang kuyakini – bahwa ciri-ciri akhlaq karimah itu di antaranya adalah: Tidak melanggar larangan Alloh Tidak berburuk sangka kepada siapapun Tidak menjadikan agama sebagai bahan olok-olok dlll… Maka cukup sudah gemuruh hati ini menjadi alasan untuk segera menegur sang khatib tersebut. Kalau bisa aku rebut sekalian microfon-nya itu dan ganti aku yang ceramah. Memangnya bisa ceramah, he he he… “Hai, jangan doong…!!!  Sontak hati kecilku menahannya… Hmmm betul juga, hal itu jangan sampai aku lakukan. Aku harus bersabar, bukankah menegur kekurangan/kesalahan orang di depan umum itu juga bukan akhlaq yang terpuji? Betul…3x  Iiih, sperti si Ipin saja… Waktupun berlalu dan acara Sholat tarawih + ceramah + sholat witir-pun berakhir. Dan tibalah saatnya giliran aku yang ceramah, maksudnya menegur sang khatib itu. Tapi bukan menegur ding, memberi masukan gitu lhoo. Siip daah… :) Setelah keadaan sepi dan sang khatib-pun pamit hendak pulang maka dengan sigap aku hampiri dia dan aku jabat tangannya. “Assalamu’alaykum ustadz… Maaf boleh minta waktunya sebentar” Kemudian sang khatib-pun mengiyakan “Iya tidak apa-apa, ada apa ya?” Langsung saja aku tancap gas untuk memberikan “catan kecil-ku yang tadi aku simpan di HP” “Begini ustadz, saya ingin memberikan masukan atas ceramah ustad tadi” Jawab sang Khatib: “Iya, yang mana ya?” Dan aku pun menjelaskan dengan tenang… “Ada tiga hal yang menurut saya ceramah ustadz tadi perlu dikoreksi karena tidak sesuai dengan judul ceramah ustadz” Kemudian aku lanjutkan… “Pertama, tadi ustadz sempat melakukan ghibah dengan menggunjingkan seseorang yang sedang terkena kasus korupsi. Padahal perbuatan menggunjing itu dilarang dalam Islam” “Kedua, Terkait kasus LHI itu kan masih proses hukum ustadz?  Belum vonis pengadilan, dan ceramah ustadz tadi saya tangkap seperti sebuah vonis bersalah untuk LHI. Padahal Allah melarang kita berprasangka buruk kepada siapapun” Dan… “Ketiga, ustadz tadi sempat menjadikan sifat Nabi sebagai bahan lelucon dan olok-lolok. Saya khawatir kalau nanti masyarakat akan menjadikan ceramah ustadz sebagai candaan dan olok-olok” Kemudian aku lihat wajah sang khatib tampak tegang dan sedikit memerah. Namun beliau bersikap tenang. “Waduh terima kasih ya dik atas masukannya…” Dan, akhirnya kami-pun berpisah setelah berjabat tangan. “Afwan ya ustadz, Assalamu’alaykum…” Lepas sudah gemuruh di dada ini, himpitan rasa gundah telah tersalurkan dan akupun kembali ke kantor dengan gontai… Kejadian kecil ini mungkin saja terjadi di tempat lain. Sebuah tren umum, mengumbar dan menggunjingkan kekurangan seseorang seakan sudah menjadi tradisi. Kalau kita tengok ke belakang, apa yang dicontohkan oleh Nabi terkait persoalan ini? Tentunya Nabi dengan keras melarang perbuatan menggunjing seseorang, apalagi di depan umum dengan jumlah mencapai ratusan orang. Wow, berapa besar tuh dosanya ya,,,? Kejadian ini hendaknya menjadi sebuah pembelajaran buat kita, ketika kita didaulat masyarakat untuk berbicara di depan umum maka berhati-hatilah untuk tidak terjebak kepada kepentingan golongan yang ujung-ujungnya menjadikan kekurangan orang lain menjadi bahan sindiran, celaan dan candaan. Apalagi hal itu menjadi bahan ceramah di masjid-masjid atau tempat ibadah yang lainnya. Mungkin saja banyak orang yang melihat hal ini seolah perkara sepele. Kalau kita cermati dalam-dalam, implikasi dari tradisi menggunjingkan aib orang dapat menimbulkan bencana kemanusiaan yang sangat besar, bisa berupa hilangnya persaudaraan, hancurnya persatuan maupun jatuhnya harga diri dan martabat seseorang. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata baik atau bila tidak sanggup maka DIAM-lah” Semoga bermanfaat… :) Salam harmoni dari Sang Purnama. Sang Purnamahttp://politik.kompasiana.com

 

About the author

More posts by admin

 

0 Komentar

Kamu dapat menjadi yang pertama yang meninggalkan komentar.

Tinggalkan sebuah komentar