Antara Yusuf dan Saudaranya, Antara Sumur dan Istana, PKS Belajar

Dalam beberapa kesempatan, Anis Matta berbicara metamorfosa tentang sumur dan istana. Beliau biasanya menjadikan kisah Nabi Yusuf ini sebagai analogi tentang konspirasi yang bisa menyerang siapa saja, tidak hanya PKS secara khusus, tetapi untuk seluruh gerakan Islam.

Dan kini, ketika ketika media-media begitu gencar memberitakan tentang kelanjutan kasus dugaan suap impor sapi; dengan berbagai kemasan dan liputan; bahkan sudah memasuki ranah infotainment selebritas; yang membuat pembaca-penonton kebanjiran berita-berita; yang membuat kita sulit untuk merangkai dan mencerna mana berita, opini, mana yang masuk akal, merangkai dan menyusun logikanya; cerita Nabi Yusuf masih sangat bisa kita jadikan pelajaran.

Menghadapi “banjir informasi” dari saudara-saudara Yusuf as, bahkan sekelas nabi seperti Yaqub as pun “hanya” bisa menyimpan kegeraman & ketidakpercayaannya dalam hati, tidak secara terang-terangan, kecuali tersirat lewat perkataan, bahkan sejak firasat awal tentang konspirasi itu dirasakannya.

Jika Yaqub, sang ayah, dikisahkan buta karena kesedihannya; maka mereka yang tersihir sekarang justru buta karena kegirangannya melihat salah satu kekuatan politik umat jadi bulan-bulanan.

Jika Yaqub as dimuliakan sejarah karena ketabahan sedemikian, maka mereka yang kini tersihir buta itu tentulah bakal berkebalikan kedudukannya.

Bila media-media itu sibuk & menyibukkan diri dengan festivalisasi, stigmatisasi, & fabrikasi fitnah; maka ucapan Yaqub as kpd “media arus utama” (12 bersaudara, kalau sekarang kan the thirteen league, hehe) kala, agaknya pas utk diteladani:

“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). [[[ Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. ]]]”

Di sisi lain, selang berpuluh tahun kemudian, giliran Yusuf as yang menyajikan keteladanan dalam prinsip penegakkan hukum, tentang betapa zalimnya orang yang menghukum mereka yang tidak bersalah.

‘Berkata Yusuf: “Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim”.’

zaki.fathurohman

 

About the author

More posts by admin

 

0 Komentar

Kamu dapat menjadi yang pertama yang meninggalkan komentar.

Tinggalkan sebuah komentar